Objektivisme dan sosialisme:
Moralitas ekspropriasi
🚩
Pendahuluan
Sosialisme sering dipasarkan sebagai bentuk belas kasih:
membantu orang miskin,
melindungi yang lemah,
mengurangi ketimpangan,
membuat masyarakat “adil”.
Namun Objektivisme melihat melampaui pemasaran tersebut.
Sosialisme bukan terutama sebuah perdebatan ekonomi.
Ia adalah doktrin moral dan politik yang dibangun di atas satu premis inti:
individu ada demi kolektif.
Premis ini tidak sejalan dengan hak asasi manusia,
dengan rasio,
dan dengan produksi.
Sebuah masyarakat yang memperlakukan kebutuhan sebagai klaim atas hidupmu
tidak dapat tetap bebas — maupun makmur.
🧭
Apa sebenarnya sosialisme
Pada hakikatnya, sosialisme adalah penggunaan kekuatan negara untuk mengendalikan, mendistribusikan kembali, atau mengarahkan hasil dari usaha manusia.
Ia dapat muncul dalam berbagai bentuk:
• nasionalisasi industri
• regulasi berat yang menekan pemilik dan produsen
• pajak konfiskatif yang dibingkai sebagai “berbagi”
• pengendalian harga, subsidi, dan perencanaan terpusat oleh komite
• redistribusi negara kesejahteraan yang dipaksakan oleh hukum
Penyebut utamanya bukanlah paket kebijakan.
Melainkan klaim moral di baliknya:
hasil kerjamu bukan sepenuhnya milikmu.
⚖️
Hak vs kebutuhan
Objektivisme berangkat dari hak-hak individu — prinsip moral yang mendefinisikan dan melindungi kebebasan bertindak dalam konteks sosial.
Sebuah “hak” bukanlah keinginan.
Bukan kebutuhan.
Bukan tuntutan atas barang yang tidak diperoleh.
Hak adalah kebebasan dari paksaan.
Artinya: tidak seorang pun boleh memulai penggunaan kekerasan terhadapmu.
Sosialisme membalikkan logika ini.
Ia memperlakukan kebutuhan sebagai klaim.
Ia memperlakukan penderitaan sebagai hak.
Ia memperlakukan “masyarakat” sebagai pemilik individu.
Inilah sebabnya sosialisme secara tak terelakkan memperluas kekuasaan negara:
untuk mengubah klaim moral menjadi pemindahan materi.
Ini adalah kebalikan langsung dari fondasi moral
kapitalisme,
yang mengakui hak milik dan pertukaran sukarela sebagai perpanjangan dari hak untuk hidup.
🪙
Hak milik adalah inti persoalan
Sosialisme tidak terutama menyerang “kekayaan”.
Ia menyerang sumber kekayaan:
hak untuk memproduksi dan mempertahankan hasil dari usahamu sendiri.
Hak milik bukan soal kemewahan.
Ia soal kemandirian.
Ia berarti pikiran dan kerjamu adalah milikmu — bukan milik negara.
Ketika pemerintah dapat menyita hasil produksi,
ia menjadi tuan atas sang produsen.
Dan begitu prinsip ini diterima,
tidak ada lagi titik batas:
setiap kebutuhan baru menjadi pembenaran baru untuk ekspropriasi.
🏗️
Produksi tidak bisa diperintahkan
Retorika sosialis sering mengasumsikan bahwa kekayaan sekadar “ada” dan dapat didistribusikan sesuka hati.
Objektivisme menyatakan kebalikannya:
kekayaan diciptakan.
Ia adalah hasil dari pemikiran yang diterapkan pada realitas.
Seperti dijelaskan dalam
Objektivisme dan kerja,
kerja bukan sekadar bertahan hidup atau kepatuhan —
melainkan proses rasional di mana manusia mempertahankan hidupnya.
Kreativitas tidak bisa diperintah.
Inovasi tidak bisa didekretkan.
Penemuan dari pikiran-pikiran independen tidak bisa direncanakan secara terpusat.
Ketika produksi dihukum dan disita,
motivasi menjadi defensif,
ambisi menyusut,
dan pikiran-pikiran terbaik mundur atau pergi.
Sosialisme tidak “membagi” kemakmuran.
Ia menghabiskannya.
🧠
Daya tarik psikologis: iri hati sebagai kebajikan
Sosialisme sering bertahan bukan melalui logika, tetapi melalui emosi moral:
dendam terhadap keberhasilan,
kecurigaan terhadap keunggulan,
dan rasa bersalah terhadap pencapaian.
Ia menawarkan jalan pintas:
jika seseorang memiliki lebih, pasti tidak adil.
Jika seseorang memproduksi lebih, pasti eksploitasi.
Jika seseorang naik lebih tinggi, pasti “privilege”.
Objektivisme menolak pola pikir ini sebagai anti-kehidupan.
Orang rasional tidak melihat keberhasilan orang lain sebagai penghinaan.
Ia melihatnya sebagai informasi — dan sebagai sumber inspirasi yang mungkin.
Sebagian besar psikologi politik modern digerakkan oleh penolakan untuk menghadapi penyebab nyata ketimpangan:
perbedaan kemampuan, pilihan, ambisi, dan fokus.
Budaya yang memuliakan iri hati akan selalu membenci produsen.
Dan sosialisme adalah senjata politik yang dicari oleh iri hati itu.
🗣️
Trik bahasa: “Dari setiap orang, untuk setiap orang”
Sosialisme sering berbicara dalam puisi moral yang samar:
“solidaritas”, “berbagi”, “komunitas”, “keadilan”.
Namun di balik setiap slogan terdapat realitas konkret:
seseorang dipaksa untuk menyediakan apa yang diterima orang lain.
Jika “berbagi” bersifat sukarela, itu adalah amal.
Jika diwajibkan, itu adalah perampasan.
Objektivisme tidak menentang kebaikan hati yang sukarela.
Ia menentang gagasan bahwa kebaikan hati dapat dituntut dengan ancaman.
Kode moral yang menjadikan pengorbanan sebagai kewajiban
mengubah kebajikan menjadi perbudakan —
dan mengubah hubungan manusia menjadi klaim dan utang.
🏛️
Sosialisme vs komunisme
Sosialisme dan komunisme berbagi akar moral yang sama:
kolektivisme — penundukan individu kepada kelompok.
Perbedaannya terutama terletak pada derajat dan metode.
Sosialisme sering menampilkan diri sebagai “moderat”:
ekonomi campuran,
negara kesejahteraan,
“kapitalisme yang diatur”,
redistribusi dengan kepemilikan pribadi yang masih secara formal utuh.
Komunisme adalah versi yang sepenuhnya eksplisit:
penghapusan kepemilikan pribadi,
perencanaan terpusat total,
dan negara (atau “rakyat”) sebagai pemilik segalanya.
Dalam praktiknya, sosialisme sering menjadi jalan menuju komunisme,
karena begitu prinsip bahwa negara boleh menyita dan mengarahkan produksi diterima,
satu-satunya perdebatan yang tersisa adalah: sampai sejauh mana.
Inilah sebabnya perbedaan itu penting — dan mengapa tujuan akhirnya harus dihadapi.
Untuk analisis lengkap tentang sistem total, lihat:
Objektivisme dan komunisme.
🧨
“Sosialisme demokratis” tetap menggunakan kekuatan
Beberapa orang mencoba menyelamatkan sosialisme dengan menambahkan kata “demokratis”.
Namun pemungutan suara tidak mengubah hakikat suatu tindakan.
Jika massa memilih untuk menyita propertimu, itu tetap penyitaan.
Jika mayoritas memilih untuk mengendalikan pilihanmu, itu tetap paksaan.
Hak tidak diberikan oleh konsensus.
Hak adalah prinsip moral yang melindungi individu dari kolektif.
Masyarakat bebas tidak ditentukan oleh siapa yang memegang kekuasaan,
melainkan oleh apakah kekuasaan itu dibatasi pada perlindungan hak.
🛑
“Ekonomi campuran” bukan kompromi yang stabil
Banyak masyarakat hidup di bawah ekonomi campuran:
sebagian kapitalis,
sebagian sosialis.
Objektivisme berpendapat bahwa ini bukan jalan tengah yang stabil.
Ini adalah tarik-menarik —
dan kecenderungannya selalu menuju lebih banyak kontrol,
karena setiap intervensi menciptakan distorsi yang dijadikan alasan untuk intervensi baru.
Pengendalian harga menciptakan kelangkaan.
Kelangkaan membenarkan penjatahan.
Penjatahan membenarkan perencanaan.
Perencanaan menuntut penerapan secara paksa.
Sosialisme tidak “memperbaiki” masalah.
Ia memperbanyaknya — lalu menyalahkan kebebasan.
🗽
Alternatif Objektivis: kebebasan dan keadilan
Objektivisme membela satu-satunya sistem sosial yang konsisten dengan hakikat manusia:
sistem di mana individu bebas untuk berpikir, memproduksi, berdagang, dan mempertahankan apa yang mereka peroleh.
Sistem itu adalah
kapitalisme —
bukan kronisme,
bukan korporatisme,
bukan “favoritisme yang diatur”,
melainkan masyarakat yang berlandaskan hak dan pertukaran sukarela.
Ia tidak menjanjikan kesetaraan hasil.
Ia menjanjikan sesuatu yang jauh lebih bermoral:
kesetaraan di hadapan hukum — dan kebebasan untuk naik melalui kemampuan.
🏛️
Kesimpulan
Sosialisme bukanlah kebaikan hati.
Ia adalah doktrin moral yang mengubah kebutuhan menjadi klaim,
iri hati menjadi kebajikan,
dan para produsen menjadi mangsa.
Ia tidak dapat diterapkan tanpa kekuatan.
Dan ia tidak dapat bertahan tanpa menyerang pikiran-pikiran yang menciptakan kekayaan.
Objektivisme menolak sosialisme karena satu alasan mendasar:
ia memperlakukan individu sebagai milik kolektif.
Jika kamu menginginkan masyarakat yang menghormati kehidupan manusia,
melindungi hak,
dan memungkinkan kemajuan,
hanya ada satu arah:
rasio, produksi, dan kebebasan — tanpa permintaan maaf.