Jordan Peterson dan Objektivisme
🦁
Mengapa Jordan Peterson?
Sedikit pemikir kontemporer yang memengaruhi percakapan publik sebesar Jordan B. Peterson.
Psikolog. Dosen. Kritikus budaya.
Gagasan-gagasannya tentang tanggung jawab, tatanan, hierarki, dan makna hidup menjangkau jutaan orang.
Namun pertanyaan yang penting adalah:
Sejauh mana Jordan Peterson sejalan — atau bertentangan — dengan Objektivisme?
🧠
Di mana Jordan Peterson sejalan dengan Objektivisme
Peterson sering menggunakan bahasa tanggung jawab individu — sebuah kebajikan utama dalam Objektivisme.
Beberapa titik temu utama:
1. Tanggung jawab pribadi
Peterson menegaskan bahwa setiap orang harus memikul beban hidupnya sendiri.
Objektivisme sepakat: hidupmu adalah milikmu untuk kau bentuk.
2. Penolakan terhadap kolektivisme
Ia mengkritik ideologi yang melarutkan individu ke dalam kelompok.
Objektivisme melihat akar kerusakan moral justru di sana.
3. Pembelaan terhadap kompetensi dan hierarki
Bagi Peterson, hierarki berdasarkan kompetensi itu alami dan perlu.
Bagi Rand, hierarki seperti itu juga moral: kemampuan harus naik ke puncak.
4. Kebenaran, kejujuran, dan kejernihan
Ia menekankan pentingnya berkata jujur, berpikir jernih, dan memakai kata dengan tepat.
Ini sejalan dengan penekanan Ayn Rand pada akal dan kejernihan konsep.
Dalam hal-hal ini, Peterson terdengar sangat dekat dengan Objektivisme.
⛪
Di mana Peterson bertentangan dengan Objektivisme
Meski ada banyak kesesuaian, perbedaannya dalam hal filsafat cukup mendasar.
1. Peterson melihat moralitas sebagai hasil evolusi, tradisi, dan mitos.
Objektivisme menolaknya: moralitas bersumber dari realitas objektif dan sifat rasional manusia.
2. Peterson membela agama sebagai sesuatu yang berguna secara psikologis.
Objektivisme menolak agama sebagai sesuatu yang irasional.
3. Peterson menempatkan pengorbanan demi “tatanan yang lebih tinggi”.
Rand menolak semua bentuk pengorbanan: individu adalah nilai tertinggi.
4. Peterson menempatkan penderitaan di pusat kehidupan.
Objektivisme menempatkan kegembiraan, pencapaian, dan penciptaan di pusat kehidupan.
Inilah jurang utamanya: iman vs akal, kewajiban vs kepentingan diri yang rasional.
🎭
Pahlawan ala Peterson vs Manusia ideal ala Rand
Manusia ideal versi Peterson memikul beban, menghadapi kekacauan, dan menerima penderitaan sebagai sesuatu yang luhur.
Manusia ideal versi Rand mencipta nilai, membentuk dunia, dan menolak penderitaan yang tidak perlu.
Pahlawan Peterson bertahan menghadapi badai.
Pahlawan Rand mengubah cuacanya.
Yang satu menanggung dunia apa adanya.
Yang lain membangun dunia sebagaimana seharusnya.
Keduanya memuji kekuatan — tetapi di atas metafisika yang berbeda total.
🔥
Mengapa Peterson sering dibandingkan dengan Ayn Rand
Karena mereka berbagi satu ciri penting:
Mereka berbicara kepada individu, bukan kepada massa.
Keduanya:
— menolak tirani ideologi
— membela tanggung jawab pribadi
— mengkritik politik yang dibangun di atas iri hati
— menolak menjadikan “masyarakat” kambing hitam atas kegagalan individu
Namun hanya Rand yang menawarkan sistem filsafat yang lengkap.
Peterson menawarkan psikologi, mitos, dan panduan praktis.
Peterson membangkitkan tindakan; Rand menyediakan cetak birunya.
💡
Apa yang bisa dipelajari kaum objektivis dari Peterson
Peterson kuat justru di area di mana Objektivisme sering disalahpahami:
— komunikasi dengan audiens luas
— resonansi emosional
— penggunaan cerita dan simbol
— nasihat konkret untuk kehidupan sehari-hari
Ia membawa banyak orang hingga ke ambang pintu sebuah filsafat rasional.
Rand menunjukkan apa yang ada di balik pintu itu.
🔍
Dalam satu kalimat
Jordan Peterson adalah sekutu kuat bagi individualisme — tetapi Objektivisme adalah filsafat yang menyelesaikan apa yang ia mulai.